0

Dualisme, konflik, tewur dan kekisruhan yang sedang terjadi dalam tubuh Arema saat ini sangat memukul sekali terhadap semua Aremania. Dua kepengurusan yang saling mengkalim sebagai pihak yang sah dan berhak untuk mengurus tim Arema, tim sepakbola kebanggaan warga Malang dan Aremania di seluruh jagad raya membuat terbentuknya juga dua tim yang saling mengatas namakan sebagai tim Arema Indonesia. Arema yang satu berlaga di Indonesia Super Leaguea, dan Arema yang satu berlaga di Indonesia Premier Leaguea.

Hal ini lah yang menjadikan banyak kalangan saling silang pendapat dan adu argumentasi untuk menentukan tim manakah yang seharusnya di dukung oleh Aremania. Banyak nawak2 Aremania yang mengatakan bahwa tim Arema di ISL lah yang paling berhak untuk didukung, karena mereka menganggap bahwa Arema ISL adalah Arema yang memang ada mulai sejak dulu yang berkantor di jalan Sultan Agung. Akan tetapi seperti yang kita ketahui pula, saat ini Arema yang berlaga di IPL juga telah mengantongi surat pengesahan dari PSSI sebagai pihak yang berhak mengurus Arema, sehingga secara hukum Arema yang berlaga di IPL adalah merupakan Arema yang sah.

Dalam kondisi yang seperti inilah yang kami sebagai Aremania sangat tidak bayangkan sebelumnya, karena kami Aremania yang sangat terkenal dengan salam kami yaitu “Salam Satoe Jiwa” seakan sedang diuji, sebatas manakah “Satoe Jiwa” kami itu? Karena seakan2 karena Arema itu menjadi dua tim yang berlaga di ajang liga yang berbeda, maka “Satoe” dalam satu jiwa berubah menjadi “Dua”. “Dua” yang seperti inilah yang kami tidak inginkan. Apalagi kami, yang bisa dianggap sebagai Aremania perantauan pasti sangat tidak menginginkan adanya perpecahan, baik itu dalam tubuh Arema ataupun dalam diri Aremania. Bagi kami satu dan kebersatuan antar Aremania adalah segalanya.

Atas dasar satu dan kebersatuan itulah Aremania Borneo berusaha untuk menyampaikan sikap tentang dualisme Arema ini dengan penuh hati2, agar tidak mengakibatkan adanya perpecahan dalam Aremania borneo. Untuk itulah, dengan semangat kebersamaan Aremania Borneo pada tanggal 4 desember 2011 dengan diwakili nawak2 Aremania Tenggarong, Bontang, Sangatta, Muara Badak, Balikpapan dan juga Samarinda berkumpul di hamur ebes haji Hamid di Samarinda Ilir. Dari pertemuan tersebut kami sepakat bahwa kami memilih untuk tetap mendukung Arema mana saja, selama membawa nama Arema untuk berjuang di liga manapun, Aremania borneo tetap akan datang dan mensupportnya. Karena kami Aremania, jadi tugas Aremania adalah mendukung Arema. Dalam arti kami lebih bersikap netral.

Kami sadar, bahwa mungkin sikap ini banyak bersebrangan dengan banyak nawak2 lainnya yang meminta kami untuk menentukan sikap antara mau mendukung Arema IPL ataukah Arema ISL. Kami juga telah mendapat banyak pertanyaan tentang hal itu, akan tetapi nawak2 juga harus tahu, bahwa ada pilihan ketiga yang mungkin banyak nawak2 sebunyikan. Pilihan itu adalah netral. Jadi karena netral juga merupakan pilhan, maka kami memilih “Netral” untuk mensikapi dualisme dalam tubuh Arema.

Dalam akun Fb nawak kami sam Rizal pernah menyampaikan pendapatnya kenapa dia memilih sikap netral, yaitu “Nanti suatu saat dualisme ini akan selesai dengan sendirinya.. Alam lah yang akan menyeleksinya.. Mana yang benar2 ingin membesarkan Arema dan mana yang hanya ada kepentingan pasti akan terlihat seiring waktu berjalan..

Dalam proses tersebutlah saya sebagai pribadi tidak mau mendukung salah satu dan memilih bersikap netral, karena saat ini masing2 masih menggunakan topeng dan bermain strategi. Saya hanya tidak mau pada saatnya nanti seleksi tersebut menelurkan suatu hasil yang kita inginkan bersama, yaitu Satu Arema Satu, Saya malah menyesal dengan pilihan saya..”

Ada lagi sikap yang disampaikan oleh nawak kami sam Arie dari Sangatta, yang menyampaikan alasannya. Yaitu;

Banyak Alasan Kami tidak mendukung salah satu kubu antara lain :

1. Kami tidak mau Aremania Borneo menjadi dua kubu.
2. Kami ini Satu Jiwa, dimana satu sakit kami akan merasakan juga.
3. Kami di perantauan lebih mengutamakan Persaudaraan Aremania, karena kami berasal dari berbagai daerah dan berbagai suku.
4. Kami hanya punya satu kepentingan yaitu mendukung Tim.Dan masih banyak lagi (ker nawak2 Aremania Borneo tulisen ndek komentar alasan2 kalian)

Selama ini Aremania Borneo tidak pernah berkomentar, karena kami sadar akan sangat sulit untuk menyampaikan kepada pihak2 yang berselisih, mudah-mudahan lewat blog kami ini bisa di keluhandan harapan kami bisa di dengar. Harapan Kami :

1. Segeralah berdamai untuk kedua kubu kalau benar2 peduli dengan AREMA.
2. Hilangkan Ego masing-masing demi satu nama.
3. Jangan saling menyalahkan satu dengan yang lainnya
4. Kepada kepala daerah se Malang Raya dan pejabat-pejabat yang peduli dengan Arema untuk segera duduk bersama untuk mencari solusi demi kebaikan Arema di masa mendatang
5. Bentuk tim yang solid dari kedua kubu dengan menanggalkan kepentingan kelompok masing2.
6. Buang orang-orang yang Cuma ingin mencari keuntungan pribadi.
7. Selalu melibatkan Aremania sebagai penengah.

Kami Aremania Borneo akan selalu berpegang teguh dalam slogan “Salam Satu Jiwa”, apapun yang terjadi Aremania Borneo Khususnya dan Aremania pada umumnya akan selalu berada di tribun untuk mendukung karena kami sadar kami adalah supporter AREMA.

Salam Satu Jiwa

A_R_E_M_A

Mungkin masih banyak alasan2 lainnya yang masih belum tersampaikan dari nawak2 kenapa kami memilih untuk tetap netral. Akan tetapi pada intinya bahwa kami lebih senang, lebih bangga, lebih mau untuk Arema tetap satu. Dan sikap kami ini adalah wujud dari keinginan kami itu. Dan rasa kebersatuan ini kami harap bisa menjadikan sebagai titik kulminasi atau titik balik untuk bisa menjadikan Arema menjadi satu lagi. Amieeeeen……….

Dan lebih penting lagi, kami harap nawak2 Aremania lainnya (khususnya yang ada di Bhumi Arema) mengerti kenapa kami bersikap netral. Jangan dijadikan hal ini sebagai bahan untuk memojokkan kami, kami ini tetaplah Aremania yang akan selalu mendukung Arema, sama seperti dengan Aremania yang lain. Kami hanya memilih sikap netral itu aja. Terima kasih.

Salam Tetap Satoe Jiwa

»View More
0

MALANG -- Kalangan Aremania (julukan suporter Arema Malang) akan mendorong pihak elite Arema yang berkonflik segera islah (berdamai). Sebab, jika gagal islah dikhawatirkan Arema juga gagal ikut kompetisi level satu Liga Profesional.

Kalangan Aremania, Kamis (15/9/2011) mengatakan, selama ini Aremania masih bersabar menunggu mereka islah. Tetapi rupanya toleransi ini tidak membuat pihak yang berkonflik sadar dan segera mau islah.

"Padahal kabarnya besok Komite Eksekutif PSSI akan bersidang menentukan klub-klub yang berkonflik seperti Arema, Persebaya dan Persija. Kami khawatir kalau tetap tidak bisa islah, Arema bisa dicoret dari daftar calon peserta kompetisi level satu," tutur Dadung, Aremania Dinoyo.

Menurut dadung, kini Aremania Dinoyo terus mengadakan kontak dengan kelompok Aremania lainnya untuk menentukan sikap dan cara agar islah segera terwujud demi menjaga eksistensi Arema.

"Aremania punya cara sendiri mendorong mereka islah. Salah satunya yang paling sederhana adalah akan kami datangi ramai-ramai rumah mereka, katanya.

Klub kebanggaan genaro Ngalam (orang Malang) itu sebenarnya sudah masuk nominasi peserta kompetisi level satu Liga Profesional. Namun, tidak jelas yang masuk nominasi itu Arema versi Rendra Kresna atau Arema versi M Nur. Sebab, kedua kubu yang terlibat konflik ini sama-sama mendaftar.

Kubu Rendra Kresna menawarkan opsi islah tapi hingga kini kubu M Nur tidak juga memberi jawaban.

PSSI memberi tambahan waktu kepada Arema Malang sampai 20 September 2011 untuk menyelesaikan konflik internalnya. Tambahan ini diberikan setelah waktu yang diberikan hingga 6 September tidak membuahkan hasil.(sumber kompas Malang)



»View More
0

Di era tahun 70-an kota Malang identik dengan Musik Rock. KOMPAS mengatakan bahwa rock menjadi ikon kota Malang. Grup Band Rock kalau belum pernah main di Malang, belum diakui sebagai grup band yang disegani.

The Rollies, Giant Step, God Bless, untuk menyebut beberapa nama, memerlukan tampil di Malang, agar namanya bisa disegani di blantika musik Indonesia.

Namun kini, sejak tahun 90-an, ikon itu telah berubah menjadi Aremania. Dikatakan oleh KOMPAS bahwa: Komunitas pendukung klub sepak bola Arema Malang ini seolah lahir begitu saja pada tahun 1990-an seiring perkembangan klub swasta Arema Malang. ”Tidak ada yang membentuk Aremania karena komunitas ini terbentuk dengan sendirinya. Siapa pun yang mencintai Aremania boleh ikut meski bukan orang Malang,” kata Yuli Sumpil, dirigen Aremania.

Sampai sekarang, komunitas ini dibiarkan cair, tanpa struktur, ketua, apalagi pembina. Maksudnya agar Aremania tidak tersusupi kepentingan tertentu. Aremania tidak ingin seperti komunitas suporter sepak bola di kota lain yang menjelang pemilu bisa diubah menjadi mesin politik. Hanya dengan mempertahankan karakternya yang cair itu, lanjut Yuli, Aremania bisa berkembang dan melekat di hati Arek Malang.
Mengapa Aremania mudah diterima di hati Arek Malang? Cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim mengatakan, karakter Aremania sesungguhnya mewakili sifat Arek Malang yang egaliter, guyub, kuat rasa persaudaraannya, dan terus terang. Karena itu, Arek Malang dengan senang hati mengidentifikasi dirinya sebagai Aremania.

Komunitas ini juga masih mempertahankan tradisi untuk berbicara dengan bahasa walikan yang kata-katanya dieja dari belakang. Mas menjadi sam, singo edan menjadi ongis nade, saya menjadi ayas, arek malang menjadi kera ngalam. Cuma kata kodok /Katak


yang tak mungkin dibolak-balik karena hasilnya tetap kodok juga.

»View More
0

Wawancara Ilham Aidit, anak bungsu Dipa Nusantara Aidit, Ketua Komite Sentral PKI.

ILham Aidit
AM - Pukul enam lebih 30 menit. Februari 1983. Pagi itu kawasan Upas Tangkuban Perahu masih menggigil. Pensiunan letnan jenderal berusia 58 tahun itu menghampiri seorang anak muda 22 tahun.

Lama dia menatap, lalu memeluknya. Erat sekali, baru melepasnya. Seperti seorang ayah merindu pada anak. “Kamu sekarang jadi apa?” tanya si jenderal. “Kepala operasi,” anak muda itu menjawab.

Sang jenderal meminta waktu bicara berdua. Anak muda itu mengangguk. Lalu mereka menyingkir dari keramaian, ke tebing Kawah Upas. “Bagaimana kuliahmu?” tanya si pensiunan sembari memandang kawah. “Lancar,” anak muda itu menjawab.

Jendral tua yang bermata nanar pagi itu adalah Sarwo Edhie. Dan si anak muda itu adalah Ilham Aidit. Sarwo Edhie adalah komandan pasukan khusus yang membasmi anggota dan petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI) sesudah Gerakan 30 September 1965. Dan Ilham adalah anak bungsu Dipa Nusantara (DN) Aidit, Ketua PKI, yang mati dihabisi tentara di Boyolali, 23 November 1965.

Datang dari dua masa lalu yang berselisih, minat mencintai alam mempersatukan keduanya di Wanadri. Sarwo Edhie sebagai anggota kehormatan, dan Ilham kepala operasi organisasi itu.

Dan pada Februari 1983 itu, adalah pertemuan kedua mereka. Pertemuan pertama berlangsung 1981. Di tempat yang sama. Bulan yang sama. Saat itu Ilham menjadi anggota baru Wanadri dan Sarwo Edhie anggota kehormatan. Sarwo Edhie menyalami satu persatu-satu anggota baru, mulai dari ujung.

Ilham yang berdiri di barisan tengah, gemetar menunggu giliran. Dia tahu bahwa Sarwo Edhie paham bahwa dia adalah putra DN Aidit. Ketika tiba gilirannya, Sarwo Edhie langsung memeluk. Dari 74 anggota baru yang dilantik pagi itu, cuma Ilham yang dipeluk. Pelukan itu tanpa kata.

Baru pada pertemuan kedua itu mereka bicara dari hati ke hati. Sarwo Edhie bercerita tentang peristiwa 1965. “Kamu bisa menerima ini, kan?” tanya Sarwo Edhie. Ilham mengangguk. Dia merasa lega dengan obrolan pagi itu. “Itu awal mula rekonsiliasi pribadi,” kisah Ilham kepada VIVANews, Jumat, 22 Oktober 2010. Keduanya kemudian beberapa kali bertemu di Wanadri, sampai Sarwo Edhie meninggal, 9 November 1989.

Rekonsiliasi berikutnya kemudian dengan keluarga Sarwo Edhie, pada tahun 2004. Digelar di Daarut Tauhiid--milik dai kondang AA Gym, di Gegerkalong, Bandung, Jawa Barat--pertemuan itu dihadiri menantu Sarwo Edhie, Susilo Bambang Yudhoyono, yang saat itu sedang berjuang di putaran kedua Pemilu Presiden.

Hadir dalam pertemuan sejumlah anak-anak korban G 30 S PKI, DII/TII yang bergabung dalam Forum Silahturrahmi Anak Bangsa (FSAB).

Di situ, Ilham sempat bercerita kepada SBY soal pertemuannya dengan Sarwo Edhie. Mendengar cerita itu, tangan SBY memegang paha kiri Ilham, lalu bilang, “Kita harus menyelesaikan masa lalu, tapi dengan cara yang arif.”

Ilham mengangguk. Mereka lalu sepakat agar rekonsiliasi terus dilakukan.

Rekonsiliasi itu kembali digelar, 1 Oktober 2010, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Berlangsung di Gedung MPR di Senayan, rekonsiliasi itu dihadiri sejumlah anak pahlawan Revolusi. Amelia Yani (Putri Jenderal Ahmad Yani), Christine Panjaitan (Putri Mayjen Panjaitan), Sukmawati Soekarnoputri.

Hadir pula Ilham Aidit, Svetlana (anaknya Nyoto), Feri Omar (anak Mantan KSAU Omar Dhani). Dan yang menarik perhatian publik adalah kehadiran Tommy Soeharto, putra bungsu Jenderal (Purn) Soeharto, presiden Indonsia selama 32 tahun, yang memimpin penumpasan terhadap anggota dan petinggi PKI tahun 1965.

Dalam kata sambutannya, Tommy Soeharto menegaskan bahwa, “Kita tidak bisa mengubah sejarah, tapi kita bisa mengubah masa depan bangsa kita sendiri. Atas nama pribadi saya mengucapkan maaf lahir batin."

Hadirin bertepuk tangan.

Masa lalu sejumlah anak mantan petinggi negara itu memang banyak yang kelabu. Ilham Aidit, misalnya, yang saat peristiwa G30S meletus masih kecil, harus lari dari satu rumah ke rumah yang lain, sebab diburu para tentara. Saat kecil, dia bahkan pernah nyaris ditembak.

Beruntung ada keluarga jauh yang memberi pertolongan, dan kemudian membesarkan Ilham bersama dua kakaknya, Iwan Aidit dan Irfan Aidit. Dua kakak perempuan mereka lari dan menetap di Perancis.

Atas pertolongan keluarga jauh itu, Ilham kuliah di Teknik Arsitektur Universitas Parahiyangan, Bandung. Tamat dari kuliah, Ilham yang ditolak jadi PNS itu, kemudian bekerja sebagai arsitek. VIVAnews mewawancarai Ilham, soal kontroversi apakah Soeharto pantas jadi pahlawan atau tidak.

Tanggal 1 Oktober 2010, Anda bertemu dengan anak-anak pahlawan revolusi dan anak Mantan Presiden Soeharto di DPR. Apa yang Anda rasakan dalam pertemuan itu?

Dengan Amelia Yani, dan Christine Panjaitan dan beberapa orang lain, kami sudah sering bertemu. Karena kami bergabung dalam organisasi FSAB. Sudah sering bertemu, saling kenal. Kalau dengan Tommy Soeharto, baru pertama kali bertemu di DPR itu.

Bagaimana perasaan Anda saat bertemu dengan Tommy. Canggung atau bagaimana?

Memang agak canggung. Tapi bukan karena dia anak Soeharto, tetapi lebih karena saya paham bahwa Tommy juga pernah menjadi bagian dari masalah penegakan hukum dan ekonomi di negeri ini. Dia punya beberapa kasus yang berhadapan dengan negara. Dia dan negara sama-sama pernah merebut uang di Bank Paribas di Inggris.

Saat bertemu Tommy Anda bersalaman?

Iya, kami bersalaman tapi tidak akrab.

Anda menyimpan dendam dengan anak-anak Soeharto?

Tidak. Saya kira ada juga anak Soeharto yang baik. Mbak Mamiek, misalnya, dia anak yang baik. Saya kira dia orang bersih, artinya tidak punya kasus seperti kasus korupsi, KKN, dan lain-lain. Saya belum pernah dengar dia punya kasus.

Kalau anak-anak jenderal yang lainnya itu, bagaimana Anda menilainya?

Saya salut dengan anak-anaknya Sarwo Edhie. Terlepas dari perilaku bapaknya, saya kira Edhie Prabowo, yang kini menjadi Pangkostrad itu, adalah tentara yang berprestasi. Saya sangat hormat dengan Beliau. Dengan anak-anak Pak Ahmad Yani dan Pak Panjaitan hubungan kami baik. Kami tidak diwarisi konflik orang tua kami.

Kini Soeharto ramai dicalonkan menjadi pahlawan, Ada yang setuju, ada juga menolak. Anda sendiri bagaimana?

Saya jelas tidak setuju.

Alasannya?

Ada tiga alasannya. Pertama, saya kira ada banyak pelanggaran HAM yang terjadi saat Beliau memimpin militer Indonesia dan saat Beliau menjadi presiden. Peristiwa yang selalu disebut antara lain, G-30S, Peristiwa Tanjung Priok, Lampung, dan beberapa peristiwa lain. Peran Beliau dalam sejumlah peristiwa itu sangat signifikan. Nilai Beliau dalam soal HAM ini merah.

Tapi kan Soeharto tidak pernah diadili dan terbukti bersalah dalam kasus-kasus itu?

Tidak diadili, tidak berarti Beliau tidak bersalah atau tidak tahu. Terlepas dari salah atau tidak, ratusan ribu pengikut PKI dibunuh sesudah tahun 1965, termasuk ayah saya. Apa Beliau sama sekali tidak punya peran dalam gemuruh perburuan dan pembunuhan para pengikut PKI itu?.

Kalau ada, betapapun kecil peran itu, apa pantas Beliau jadi pahlawan? Apa pantas orang yang diduga tahu soal pembunuhan itu, dan punya kuasa untuk menghentikannya, tapi diam saja, kita angkat jadi pahlawan?

Apa alasan lain?

Presiden Soeharto dijatuhkan lewat unjuk rasa yang luar biasa masif di seluruh Indonesia. Unjuk rasa dilakukan hampir seluruh rakyat. Sampai-sampai mahasiswa panjat-panjat gedung dan menduduki atap gedung DPR. Apa pantas orang yang dijatuhkan dengan kehendak rakyat yang begitu besar, kita angkat jadi pahlawan? Dijatuhkan rakyat, kok diangkat jadi pahlawan? Apa pembenarannya?

Tapi bukankah jasa Soeharto dalam pembangunan ekonomi besar?

Pembangunan kita dibiayai oleh utang. Dan Anda tahu bahwa Profesor Soemitro Djojohadikusumo, ketika masih menjadi besan Pak Harto, menegaskan bahwa sekitar 30 persen dari utang kita itu bocor. Bocor ke mana? Menurut Pak Sumitro dan para ahli ekonomi, ya bocor karena KKN.

Apa yang bocor ini pantas dibanggakan sehingga jadi pahlawan? Dan kalau sukses pembangunannya, apa alasan seluruh rakyat Indonesia waktu itu turun ke jalan menjatuhkan Beliau? Karena pembangunannya gagal, kan?

Pendukung Soeharto bilang, dalam hal KKN Soeharto toh tak pernah divonis bersalah. Tanggapan Anda?

Pengadilan untuk itu sudah ada, tapi Beliau sakit, sehingga kasusnya diendapkan dan kemudian dihentikan. Jadi, Beliau pernah diproses secara hukum. Lha, apa pantas Beliau yang pernah diproses hukum itu jadi pahlawan?
( kutipan sejarah)

»View More
0

Arek Malank - SEA Games XXVI akan berlangsung kurang dari enam bulan lagi di Palembang dan Jakarta pada 11-14 November 2011.
Ajang olahraga tertinggi bangsa-bangsa di Asia Tenggara ini akan mempertandingkan 44 cabang olahraga dengan 542 medali emas untuk diperebutkan.
Kota Palembang akan mendapat kehormatan untuk menggelar sekitar 22 cabang olahraga. Penyelenggaraan akan dipusatkan di kompleks Stadion Jakabaring.

Sedangkan Jakarta akan menyediakan fasilitas untuk 24 cabang olahraga dengan kompleks Gelora Bung Karno Senayan sebagai pusatnya. Lalu ada GOR Ciracas Pasar Rebo dan beberapa arena lainnya sebagai fasilitas penunjang.

Sebagai negara dengan wilayah paling luas dan berpenduduk terbanyak di Asia Tenggara, prestasi Indonesia memang masih di atas negara ASEAN lainnya. Sejak mengikuti SEA Games pertama kalinya pada 1977 silam, Indonesia sudah pernah menjadi juara umum sebanyak sembilan kali (1977,1979, 1981, 1983, 1987, 1989, 1991, 1993 dan terakhir 1997).

Bandingkan dengan Negeri Gajah Putih Thailand yang baru lima kali menjadi juara umum (1985, 1995, 1999, 2007 dan 2009), Malaysia satu kali (2001), Vietnam satu kali (2003) dan Filipina satu kali (2005).

Tapi semua catatan prestasi di atas terjadi pada masa lalu yang hanya bisa kita kenang. Setelah 1997, prestasi olahraga Indonesia memprihatinkan.

Dulu selama puluhan tahun kita unggul di cabang bulu tangkis, sepak bola, atletik, bela diri, aquatik, angkat beban dan senam. Kini Malaysia pun sudah bisa menumbangkan tim bulu tangkis Indonesia yang selama beberapa dekade ditakuti di dunia.

Indonesia bahkan pernah berada di posisi lima klasemen akhir di SEA Games 2005 Filipina, di bawah negara yang lebih kecil dan “baru” merdeka seperti Vietnam.

Ironisnya banyak mantan atlet, yang dulu berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di atas bendera negara lainnya, kini hidup melarat di usia senja. Mereka terpaksa menjual medali demi sesuap nasi karena pemerintah lalai memerhatikan kesehjateraan mereka.

Kegagalan prestasi olahraga nasional bukan cuma di SEA Games, tapi juga di ajang Asian Games dan Olimpiade. Belum lagi kejuaraan internasional lainnya.

Lalu bagaimana peluang Indonesia di SEA Games 2011? Sebagai tuan rumah kita punya potensi yang besar untuk menjadi juara umum atau paling pahit duduk di posisi kedua. Berlaga di kandang sendiri dan didukung fans tentu menjadi suntikan semangat yang luar biasa.

Tapi penampilan di pertandingan ditentukan oleh persiapan — seperti latihan dan pola makan sebelum berlaga.

Pemerintah melalui Kemenpora bekerjasama dengan KONI/KOI memang membentuk Program Indonesia Emas (PRIMA), yang bertugas merancang program latihan, pembentukan karakter atlet hingga strategi bertanding agar nama Indonesia berjaya di SEA Games 2011.

Namun keraguan tetap muncul terhadap keberhasilan program PRIMA. Pengurus olahraga di Indonesia selama ini lebih mementingkan pelatihan jangka pendek menjelang bergulirnya sebuah kejuaraan.

Induk-induk organisasi olahraga baru akan menggelar latihan beberapa bulan sebelum mengikuti sebuah turnamen. Pola pencarian bibit atlet muda lewat kejuaraan di daerah tidak pernah digarap dengan serius. Anak-anak sekolah yang gemar berolahraga pun tidak diberdayakan dengan sungguh-sungguh.

Tak hanya itu, sarana olahraga di negara ini boleh dibilang sangat memprihatinkan. Indonesia selama bertahun-tahun “hanya” mengenal stadion sepak bola berstandar internasional Gelora Bung Karno (dulu stadion utama Senayan) yang dibangun tahun 1962 silam.

Beberapa stadion megah dan kompleks olahraga baru dibangun pemerintah dalam 10 tahun terakhir — misalnya Stadion Jakabaring Palembang (dibuka 2004) dan stadion Palaran Samarinda (dibuka 2008).

Minimnya fasilitas olahraga di Indonesia menjadi bukti minimnya perhatian pemerintah terhadap pembinaan atlet nasional. Bagaimana mau menghasilkan atlet berprestasi kalau tempat latihannya saja kita tak punya?

Soal peluang Indonesia di SEA Games 2011, kita harus realistis. Sepertinya sulit untuk menjadi juara umum.

Prestasi dalam olahraga tak cuma bermodal semangat juang tinggi. Banyak faktor yang menentukan, mulai dari bentuk tubuh atlet, asupan gizi, ketahanan fisik, bakat, pendidikan, pelatih yang handal, lingkungan yang baik sampai pola pelatihan jangka panjang selama bertahun-tahun.

Bandingkan dengan Thailand, Vietnam, Malaysia sampai Laos yang serius membina atletnya. Mereka menyewa pelatih asing yang berpengalaman sampai membangun sarana olahraga mumpuni.

Jangan heran kalau nanti Indonesia yang tuan rumah hanya bisa jadi penonton prestasi atlet negara lain yang berlaga di SEA Games 2011.

Dari hasil sementara jajak pendapat yang dilakukan oleh Yahoo! Indonesia hingga Rabu (1/6) pukul 13.45 WIB, para pembaca memilih Thailand sebagai saingan terberat Indonesia di SEA Games 2011 dengan perolehan 2955 suara (59 persen).

Disusul Malaysia (1031 suara/21 persen. Yang unik dari hasil sementara jajak pendapat, sebagian pembaca Yahoo! Indonesia memilih Timor Leste (360 suara/7 persen) lebih kuat dari Vietnam yang hanya meraih tiga persen atau 156 suara.(AM)

»View More

Visitor

Followers

My BLoglist